Kematian Pancasila pada Peringatan Hari Lahirnya

By noepa3

Pancasila, mulai dari SD telah diajarkan kepada kita bahkan mungkin kita sudah mampu melafalkannya di luar kepala. Semenjak sekolah dasar pun, kita juga sudah diajarkan tentang bentuk-bentuk prilaku yang mencerminkan pengamalan sila dalam Pancasila, contoh: tidak membeda-bedakan teman yang merupakan pengamalan dari sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan juga masih banyak lainnya.

Menginjak SMA, kita mulai diajarkan tentang memahami Pancasila bukan hanya sekedar dari segi kognitif saja namun mencapai tingkat afeksi dan psikomotor. Dikatakan bahwa kita harus memahami Pancasila sebagai

1.Ideologi terbuka

2.Dasar negara

3.Perjanjian luhur

4.Sumber hukum

5.Pandangan hidup

6.Pemersatu bangsa

7.Cita-cita bangsa

Dan memang bahkan saya menyadari kalau para pejabat yang menduduki kursi-kursi penting pasti mengetahui tentang hal tersebut, kecuali apabila mereka tidak pernah melewati masa SMA ya wajar kalau tidak tahu hal tersebut, tapi mana mungkin bisa jadi pejabat apabila tidak melewati masa SMA.

Secara teori memang seperti itu namun mayoritas (saya tidak mengatakan “semua” karena saya yakin tidak semua, hanya mayoritas saja) pejabat yang menduduki kursi-kursi penting di Indonesia seakan sudah melupakan esensi Pancasila, hal tersebut tercermin dari prilaku para pejabat, mulai dari

  • Korupsi
  • Pelecehan seksual
  • Penyuapan
  • Pembagian uang bersama
  • Penggelapan uang
  • Fitnah

Dan masih banyak lagi, seakan-akan perlu disediakan suatu buku setebal kamus untuk mencatat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang berkerah putih ini.

Apabila para pejabat yang juga dianggap sebagai public figure saja melakukan hal tersebut bagaimana dengan rakyat yang secara tidak langsung pastinya juga akan mengimitasi segala tingkah laku mereka? Mengapa orang-orang berkerah putih tersebut tidak mampu menegakkan Pancasila yang padahal kata ‘mereka’ adalah suatu ideologi negara? Mengapa mereka malah saling mementingkan kepentingan golongan (partai) mereka yang padahal tidak mampu menyejahterakan rakyat? Mengapa tidak dicabut, dibakar, dienyahkan saja Pancasila itu apabila ternyata hanya digunakan sebagai pajangan rumah saja? Atau kita jual saja Pancasila itu ke negara lain daripada mubadzir apabila ada di Indonesia?

Maka sebenarnya Indonesia pada hari ini, 1 Juni 2008, tidak sedang merayakan hari lahirnya Pancasila namun hari kematian Pancasila karena seperti kita ketahui sebenarnya Pancasila sudah mati sejak dulu, semenjak Pancasila digunakan sebagai tameng untuk melanggengkan kekuasaan seorang pemimpin.

Tag:

Tinggalkan Balasan