Begitu sering opini publik berkembang dan sayangnya hanya beberapa orang saja yang menyadari tentang adanya maksud dengan dikembangkannya opini di masyarakat tersebut. Sampai akhir Mei lalu, rakyat, mahasiswa, dan golongan lainnya ramai berdemo untuk menolak kenaikan harga BBM dan berbagai media massa pun gencar memberitakan aksi tersebut sampai akhirnya perhatian dialihkan pada kasus Monas. Bahkan kasus Monas dikupas habis, sampai-sampai seharian di berbagai tayangan berita, yang ada hanya kasus Monas. Mulai dari penangkapan anggota FPI yang begitu ramai dibahas sampai akhirnya bersambung dengan masalah SKB 3 mentri tentang Ahmadiyah. Kasus-kasus yang terjadi beserta opini publik yang dikembangkan seakan-akan sedang dimanipulasi oleh pers dimana tentunya ada yang menjadi dalang di balik hal tersebut yang akhirnya mampu membuat masyarakat menjadi hilang ingatan tentang kenaikan harga BBM yang sebelumnya mereka tolak dengan keras.
Arsip untuk Juni, 2008
Kasus Monas tutupi kenaikan harga BBM
Juni 15, 2008Penyederhanaan Parpol lewat Politik Adu Domba
Juni 2, 2008Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi konflik dalam tubuh partai politik yang sudah ada, baik dalam internal partai politik tersebut maupun antar parpol. Hal ini terjadi seiringan dengan makin dekatnya Pemilu 2009. Apalagi parpol-parpol yang mengalami konflik adalah parpol yang merupakan pemain lama di dunia politik tanah air. Berikut beberapa daftar konflik parpol
• Konflik dalam tubuh PKB yang kemudian membagi paratai ini menjadi dua kubu yaitu kubu Gus Dur dan kubu Muhaimin Iskandar.
• Konflik internal di tubuh PAN di pulau Sulawesi.
• Perebutan kantor di Sumatera antara kubu PDI-P dengan PKB.
• Pembeberan kasus pelecehan seksual anggota DPR dari fraksi PDI-P Max Moein.
• Insiden pengeroyokan muslim di Monas pada 1 Juni 2008 yang menyebabkan beberapa anggota parpol Islam menderita luka parah.
dan tentunya masih banyak lagi konflik yang akan terjadi beberapa hari mendatang apalagi jika hari-hari mendekati Pemilu semakin dekat.
Dari beberapa insiden yang terjadi di berbagai daerah seakan-akan menunjukkan adanya dalang di balik semua kejadian itu karena apabila kita pikir lagi, maka tidak mungkin parpol-parpol tersebut menunjukkan keburukannya di depan publik apalagi mendekati Pemilu 2009. Padahal seharusnya tiap parpol dalam hari-hari menuju Pemilu 2009 menjaga nama baiknya masing-masing dan jika kita benturkan dengan fakta yang ada maka ada beberapa kesimpulan, yakni
• Parpol tidak mampu menjaga pamornya di hadapan publik
• Tidak adanya kerjasama antara parpol dengan pers
• Ada salah satu atau beberapa parpol yang menjadi dalang di balik semua kejadian yang terjadi
Kita teliti lagi kesimpulan pertama
Parpol tidak mampu menjaga pamornya di hadapan publik, hal ini rasanya memang mungkin namun kemungkinannya sangat kecil mengingat yang mengalami konflik adalah parpol-parpol besar yang merupakan pemain lama di Indonesia, kecuali apabila para pengurus yang daingkat tidak memiliki kecakapan dalam berpolitik.
Kesimpulan kedua
Tidak adanya kerjasama antara parpol dengan pers
Pers memilki peran yang cukup besar dalam kampanye parpol apalagi pers juga memiliki kemampuan menyebar opini secara luas. Dengan tidak adanya kerjasama antara parpol dan pers (mungkin juga bisa dikatakan suap-menyuap) maka tidak menutup kemungkinan bagi pers untuk membuka catatan hitam partai politik yang ada.
Kesimpulan ketiga
Ada salah satu atau beberapa parpol yang menjadi dalang di balik semua kejadian yang terjadi, ditilik dari berbagai kejadian yang terjadi, mungkin kesimpulan ini yang paling masuk akal. Ada satu atau beberapa parpol yang ingin menjatuhkan kompetitornya (partai lain) dalam Pemilu 2009 sehingga saingannya akan berkurang di putaran Pemilu kali ini. Entah siapakah yang mnjadi dalang, parpol lama atau parpol baru?
Tanya Kenapa?
Juni 1, 2008Masih ingat gak ama soal ulangan:
Apa yang harus kita lakukan apabila ada budaya asing yang masuk ke Indonesia?
Maka jawabannya yang sudah pasti adalah:
Memfilternya dengan menggunakan nilai-nilai dasar Pancasila
Namun video di bawah ini seakan-akan tidak menunjukkan hal tersebut dan malah mengingkarinya
Video ini merupakan konser yang berlangsung di Surabaya tepatnya di tempat parkir TP IV pada hari Sabtu, 24 Mei 2008 dan ditayangkan di stasiun TV lokal
Kematian Pancasila pada Peringatan Hari Lahirnya
Juni 1, 2008Pancasila, mulai dari SD telah diajarkan kepada kita bahkan mungkin kita sudah mampu melafalkannya di luar kepala. Semenjak sekolah dasar pun, kita juga sudah diajarkan tentang bentuk-bentuk prilaku yang mencerminkan pengamalan sila dalam Pancasila, contoh: tidak membeda-bedakan teman yang merupakan pengamalan dari sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan juga masih banyak lainnya.
Menginjak SMA, kita mulai diajarkan tentang memahami Pancasila bukan hanya sekedar dari segi kognitif saja namun mencapai tingkat afeksi dan psikomotor. Dikatakan bahwa kita harus memahami Pancasila sebagai
1.Ideologi terbuka
2.Dasar negara
3.Perjanjian luhur
4.Sumber hukum
5.Pandangan hidup
6.Pemersatu bangsa
7.Cita-cita bangsa
Dan memang bahkan saya menyadari kalau para pejabat yang menduduki kursi-kursi penting pasti mengetahui tentang hal tersebut, kecuali apabila mereka tidak pernah melewati masa SMA ya wajar kalau tidak tahu hal tersebut, tapi mana mungkin bisa jadi pejabat apabila tidak melewati masa SMA.
Secara teori memang seperti itu namun mayoritas (saya tidak mengatakan “semua” karena saya yakin tidak semua, hanya mayoritas saja) pejabat yang menduduki kursi-kursi penting di Indonesia seakan sudah melupakan esensi Pancasila, hal tersebut tercermin dari prilaku para pejabat, mulai dari
- Korupsi
- Pelecehan seksual
- Penyuapan
- Pembagian uang bersama
- Penggelapan uang
- Fitnah
Dan masih banyak lagi, seakan-akan perlu disediakan suatu buku setebal kamus untuk mencatat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang berkerah putih ini.
Apabila para pejabat yang juga dianggap sebagai public figure saja melakukan hal tersebut bagaimana dengan rakyat yang secara tidak langsung pastinya juga akan mengimitasi segala tingkah laku mereka? Mengapa orang-orang berkerah putih tersebut tidak mampu menegakkan Pancasila yang padahal kata ‘mereka’ adalah suatu ideologi negara? Mengapa mereka malah saling mementingkan kepentingan golongan (partai) mereka yang padahal tidak mampu menyejahterakan rakyat? Mengapa tidak dicabut, dibakar, dienyahkan saja Pancasila itu apabila ternyata hanya digunakan sebagai pajangan rumah saja? Atau kita jual saja Pancasila itu ke negara lain daripada mubadzir apabila ada di Indonesia?
Maka sebenarnya Indonesia pada hari ini, 1 Juni 2008, tidak sedang merayakan hari lahirnya Pancasila namun hari kematian Pancasila karena seperti kita ketahui sebenarnya Pancasila sudah mati sejak dulu, semenjak Pancasila digunakan sebagai tameng untuk melanggengkan kekuasaan seorang pemimpin.
